Showing posts with label Love for 'Pacar Pertama'. Show all posts
Showing posts with label Love for 'Pacar Pertama'. Show all posts

Monday, August 31, 2009

Jangan Pacaran Sama Cowo Ganteng

Pasangan di mana si cewe lebih good-looking daripada cowonya lebih harmonis dibanding kalo si cowo lebih good-looking daripada cewenya.

Percaya?

Itu yang aku baca dari sebuah artikel di majalah lokal Kelapa Gading yang memang sering memuat isu-isu ilmiah yang unik. Berdasarkan artikel tersebut, pernah diadakan penelitian di Amerika terhadap beberapa pasangan (lupa tepatnya, tapi cukup banyak). Kalau aku nggak salah inget, mereka adalah pasangan-pasangan menikah dari berbagai usia dan latar belakang.

Pertama, mereka masing-masing diminta menilai fisik pasangannya dengan nilai 1-10. Setelah itu mereka diamati ketika sedang bertengkar (entah gimana cara mengamatinya, pokoknya bisa diamati deh).

Berdasarkan penelitian tersebut bisa disimpulkan respon cowo dan cewe dalam pertengkaran/perdebatan terhadap pasangannya.


Cowo yang menilai pasangannya lebih menarik daripada dirinya cenderung lebih menghargai pasangannya daripada cowo yang menilai pasangannya kurang cantik. Jadi mereka yang menilai istrinya lebih menarik daripada dirinya, cenderung bersikap lebih lembut dan penuh penghargaan dalam berkata-kata. Menurut artikel tersebut, ini disebabkan cowo tersebut ngerasa mereka mendapatkan pasangan yang sebenernya lebih tinggi dari standar mereka.

Sedangkan...

Cewe cenderung memberi respon yang berimbang, sesuai tindakan yang dilakukan suaminya kepadanya. (Kalau suaminya lembut, si istri juga melembut. Kalo suaminya kasar, si istri juga meradang).

Jadilah, pasangan yang cewenya lebih menarik, cenderung lebih harmonis, karena bisa mengendalikan pertengkaran dengan lebih baik.

In my opinion....

Fakta ini lumayan mengejutkan dan membuka mata, tapi sangat masuk akal. Kalo dipikir-pikir ini berkaitan dengan ketertarikan cowo terhadap visual dan cewe terhadap audio.
Kelembutan sikap cowo tergantung pada kecantikan si cewe (visual).
Kelembutan sikap cewe tergantung pada sikap, kata-kata, intonasi si cowo (audio).

Lalu...
Apa artinya kita para cewe-cewe ga bisa dapet cowo ganteng?
Atau gimana nasib cewe-cewe yang kurang cantik menurut standar pada umumnya? Apakah harus nyari cowo yang supeeer jelek? (wah kejam ya pernyataan ini..)

Menurutku yang penting...
Yang perlu dicari adalah cowo dan cewe yang dewasa dalam segala aspek (rohani, psikis, fisik juga dong). Orang yang benar-benar dewasa harusnya nggak lagi egosentris dan lebih bisa menghargai pasangannya.

Dan paling gampang, cari yang cinta Tuhan, jadi dia bisa ngeliat kecantikan pasangannya. Karena tiap cewe emang cantik dengan caranya, wong putri Raja kok...

Nah, kalo berpasangan dengan putri Raja dan putra Raja, udah pasti di atas standar kita dong? dan harusnya lebih bisa menghargai dong? Wong harusnya kita ga layak kok dapet putra/putri Raja.

Friday, July 17, 2009

Liat Yuk Dalemnya!

"Liat yuk dalemnya!"

Itu kalimat yang keluar dari mulutku waktu jalan di FX bareng mamaku. Waktu itu kita baru keluar dari toilet, dan kita ngeliat sebuah pintu tertutup berwarna cerah, bertuliskan "POWDER ROOM".

Jujur, sebelumnya aku ga pernah denger istilah "powder room" jadi ga kebayang ruangan apaan tuh. Dan inilah percakapan yang terjadi di antara aku dan mamaku.

Aku: "Eh, ada powder room. Ruangan apa ya?"
Mama: "Iya ya. Ga tau buat apa."
Aku: "Buat bedakin ato ganti pampers bayi kali ya?"
Mama: "Mm.. iya kali."
Aku: "Liat yuk dalemnya!"

Waktu aku ngomong kalimat itu, sebenernya setengah ragu juga, ngerasa aku terlalu penasaran, dan kuatir dengan reaksi mamaku. Tapi ternyata ini bagian dialog mamaku selanjutnya:

Mama: "Yuk" (sambil membuka pintu itu)

Memang, pada akhirnya si pintu ternyata terkunci, jadi kita gak bisa liat dalemnya. Tapi kejadian kecil ini membuatku amat bersyukur. Aku baru menyadari kalo inilah karakter mamaku yang telah membentukku jadi seperti ini. Aku rasa gak semua mama-mama bakal ngerespon kaya gitu dalam kondisi yang sama. Bisa jadi respon mama-mama lain seperti ini:

"Hah? Jangan ah."
"Aduuh... ngapain sih? Ada-ada aja."
"Jangan ah, penasaran amat sih, bikin malu aja."

Aku baru sadar ternyata dari kecil aku memang dididik untuk berusaha memenuhi rasa ingin tahuku semaksimal mungkin. Aku memang selalu pengen nyoba hal baru. Waktu kecil seringkali aku minta saputangan bekas, dan minta diajarin jahit. Aku minta karton buat dibikin rumah-rumahan. Aku minta kain-kain dan selendang buat dibikin baju. Aku minta diajarin pake mesin ketik listrik (di usia 5 th-an) buat bikin menu 'restoran' buatanku.

Dan seingatku, gak sekalipun mamaku menolak.
Pasti lebih mudah baginya untuk bilang:
"Saputangannya gak ada. Main yang lain aja." atau
"Nanti aja kalo uda gede belajar ngetiknya. Kamu kan masih kecil."

Tapi dia ga pernah mengeluarkan kata-kata semacam itu. Sebaliknya, dia selalu ngajarin aku semaksimal mungkin, dalam segala hal, seolah-olah aku bener-bener akan bisa bikin semuanya dengan baik. Dia gak terlalu kuatir aku luka ketusuk jarum atau mesin tik nya rusak karena aku salah pake.

Amsal 22;6
"Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu."

Sebagian dari kita (termasuk aku) mungkin mikir ayat itu maksudnya kalo kita didik anak-anak kita di jalan yang benar sesuai Firman Tuhan, ia nggak akan menyimpang.

Tapi Max Lucado dalam bukunya "Temukan Sweet Spot Anda" mengatakan bahwa jalan yang dimaksud mengacu pada kemampuan atau ciri-ciri unik yang dimiliki si anak (tentu aja uraiannya ada lebih lengkap di buku ini). Dan bung Lucado juga mengakui kalo gak banyak anak-anak yang beruntung dididik oleh orangtua yang menyadari hal ini.

Ternyata, aku salah satu anak yang beruntung itu.
Thx, God
Thx, Mom.


Saturday, June 13, 2009

Senang senang tralala

Setelah bekerja belasan jam, nyaris nonstop, secangkir kopi pekat, sebungkus toge goreng, hiburan dari TV yang nyala nyari 24 jam, serta tiga jam tidur.

Setelah setangkup roti bakar, momen nyetir sendirian yang menyenangkan, tempat parkir yang super strategis, aku sekarang sedang menunggu di tempat digital printing. Ya, menunggu Datuk Maringgih-ku.

Setelah perjuangan (dan per'santai'an) berbulan-bulan (nyaris 7 bulan kalo dipikir-pikir) akhir dari bab kehidupanku yang ini udah di depan mata.

Satu hal utama yang kupelajari:
Pacar pertamaku bener-bener bekerja tepat pada waktunya dan Dia sungguh tau apa yang aku butuh lebih daripada diriku sendiri.




Ia memberiku dosen pembimbing yang tidak aku harapkan, tapi ternyata dia sangat kritis, dan karena kritisnya banyak yang takut kalo disidang sama dia. Tapi karena dia pembimbing utamaku, dia uda banyak mempersiapkan aku ini dan itu.

Ia memberiku kesempatan untuk kenal sama banyak temen-temen DKV melalui TA ini. yang tadinya jarang ketemu, gak pernah ngobrol karena ga pernah sekelas, sekarang seolah semuanya jadi teman seperjuangan, sehati, dan saling dukung.

Ia menunjukkan betapa banyaknya orang yang peduli dan sayang sama aku.

Ia kasih jadwal sidang visual di hari terakhir (yang awalnya bikin buuueeeeeteeee) tapi ternyata Dia tahu kalo aku pada akhirnya memang baru bisa kelarin tanggal segitu.

Ia kasih kejutan manis buat sahabatku (yang juga lagi tugas akhir), di saat-saat terakhir, namun sangat tepat waktu.

Terlalu banyak...

Kadang kita gak percaya, kadang kita lupa.
Kadang kita pikir hanya kita yang paling mengenal diri kita.
Kadang rancangan-Nya keliatan menyakitkan
Sampai kita sulit menerima
Tapi satu hal yang kelihatan klise, tapi benar adanya
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

Friday, May 15, 2009

Datuk Maringgih

Gimana jadinya kalo Siti Nurbaya jatuh cinta sama Datuk Maringgih?

Aku mulai merasa jatuh cinta lagi. Uda nggak ngerasa jadi Siti Nurbaya deh.
Thx buat si Pemberi Cinta...
Dengan cinta, semuanya terasa lebih menyenangkan...haha

Dedicated to my final project

Wednesday, April 22, 2009

Welcome...

Semester 1 & 2 begadang udah jadi makanan sehari-hari.
Semester-semester selanjutnya... frekuensinya makin lama makin berkurang.
Semester 7, kerja praktek, cuma beberapa kali bergadang di kantor.
Semester 8 awal, santai-santai ngerjain konsep tugas akhir
Semester 8 akhir, menjelang sidang visual..... JEGER
begadang begadang begadang..... rasanya... tangan kaki lemes....

Welcome back...

Dina bilang sama TA: "Tuhanku jauh lebih gede dari kamu!"

Tuesday, April 14, 2009

Plis deh... Aku Bukan Siti Nurbaya!

Siti Nurbaya, tokoh yang bahkan sekarang udah tergolong sebagai ikon sebuah kata yang pastinya gak populer bagi generasi muda zaman sekarang : "perjodohan"

Sebel rasanya, aku ngerasa terpaksa harus mencintai dia, padahal aku nggak ada rasa sama sekali. Apa namanya ini kalo bukan perjodohan? emangnya aku hidup di jaman apa, sih? Bukannya kata orang ini jaman modern, globalisasi, demokratis, moderat, apalah namanya, di mana semua orang punya hak asasi melakukan apa yang dia mau, termasuk memilih cinta yang dia mau.

Terus kenapa juga aku harus jatuh cinta padanya padahal setengah mati aku pengen lari dari dia. Iiih.... kalo bisa gak usah ketemu-ketemu deh. Udah gitu, tanggal pernikahan kami malah udah ditentukan dari sekarang, yang mana itu sekitar 2 bulan lagi. Dan sekarang aku udah harus siap-siap buat acara tunangan 1 bulan lagi. Apa namanya nih kalo bukan perjodohan.

Sebaaaal...

Eh tapi ternyata aku lupa loh.... lupa kalo ternyata ini mah jauh dari yang namanya perjodohan, wong awalnya emang aku yang milih dia kok. Tapi waktu itu aku kurang pikir panjang. Dan setelah kenal lebih jauh, bukan berarti ternyata aku sama sekali gak peduli sama dia sih, tapi sekarang ini aku butuh waktu rasanya, butuh break. Tapi ternyata gak bisa tuh. Lha itu lah gara-gara tanggalnya udah ditetapin. Emangnya aku mau break sampe kapan? Sampe aku tunangan nanti?

Aaaah... Pliss deh... aku bukan Siti Nurbaya.

Nah, saat ini solusi terakhirku cuma minta sama Yang Punya Cinta supaya Dia kasih aku cinta lagi buat dia yang harus kucintai.

Teruntuk tugas akhir-ku, yang awalnya kucinta, dan harus kucinta, tapi maaf ya, sekarang lagi ga cinta, tuh.... Make me love you again, please?

Wednesday, March 18, 2009

Lelah... intermezzo...

15 menit menuju jam 1 pagi, aku masih terjaga.
3 th yang lalu sih ini hal biasa, hampir tiap malam harus begadang bikin tugas sampe kelar.
Tapi 1,5 th belakangan, udah ga biasa begadang. Lelah.

Badan sih nggak seberapa cape. Seperti biasa, aku lebih ngerasa kewalahan krn otak dan lebih-lebih, hati, harus menampung buaaanyak hal. Uda gitu inpirasi yang kutunggu dan kucari dalam sebuah 'momen tring' gak kunjung tiba.

Dalam suasana kayak gini, satu-satunya hiburan adalah dengan bersyukur.
Bahkan buang air besar, eek, boker, berak, beol, atau apalah itu namanya... jadi momen penuh syukur. Pacar Pertamaku di surga bener-bener baik, Dia ciptain aku sedemikian rumit dan detilnya. Bayangin kalo Dia lupa kasih aku saluran pembuangan.

Ayo nikmati kelegaan setelah duduk di kloset sebagai anugerah tiada tara.

:D

Friday, February 13, 2009

Happy Valentine!

13 Februari 2009
Hari ini valentine buatku & Benny...
haha...

Semuanya diawali tahun lalu, valentine pertama kita dengan status 'in a relationship'. Taun lalu 14 Februari jatuh pada hari Kamis, yg berarti aku lagi di rumah kontrakan, di Karawaci. Karena aku (apalagi Benny!) bukan tipe pacar-pacar romantis yang ngerayain valentine, aku gak mikir bakal terjadi apa-apa hari itu.

Tapi sehari sebelumnya, tgl 13 Februari, malem-malem, aku baru keluar kampus abis Doa Rabu, si Mas Ben bilang udah di jalan ke Karawaci tanpa kasih tahu alesannya. Aku berepot-repot masak. Sampe di kontrakanku, si Mas Ben kasih coklat (Cadburry! yang sangat umum...haha) dan dia benar-benar berpikir hari itu hari Valentine!!!

DOENG....!

Inilah penyebabnya. Hari itu, 13 Februari, pulang kampus ke Golden Truly, ngeliat ada cowo yang ngasih bunga ke cewenya. Dan tanpa mikir, ato memastikan ke kalender, dia langsung menyimpulkan kalo itu Valentine.... Hwaaa.... dasar!!!!

Karena itulah, dan karena kami pada dasarnya pengen beda dari orang lain, Valentine kami dipindahin ke tanggal 13 Februari... yang sebenernya gak ada efeknya juga sih. Tetep aja kita gak ngapa2in hari ini. Ketemu aja nggak. Haha...





Padahal, sebenernya aku ini cukup mellow dan romantis. Apalagi 1 th belakangan. Salah satu hobiku adalah bikin surprise yang menyenangkan orang lain. Aku juga bisa berkaca-kaca, berderai-derai, ato senyum-senyum sendiri pas nonton film romance, atau simply karena ngeliat sesuatu yang terlalu bagus, terlalu indah, atau terlalu hepi.

Makanya kemaren, Mamaku sempet tanya kok aku yang kayak gitu dapetnya cowo yg kayak si Mas Ben. (Sebelum Mas Ben, cowo-cowo yg sempet deket denganku hampir semuanya tipe-tipe romantis, suka memberi hadiah, kejutan, dan puitis.)

Nah, menyangkut sifatku tadi, saalah satu kebiasaan baruku adalah nonton Oprah sambil menitikkan air mata. Wakaka....
(dan dulu gw susah banget nangis! Temen-temen SMA gw pasti pada bingung)

Tadi ada Oprah edisi Valentine, dan jadi salah satu episode yang sangat berkesan. Ada beberapa kisah cinta orang-orang, tapi ada satu yang bener-bener aku suka.

Ada seorang cewe dan cowo yang kuliah bareng (dua-duanya kelas drama), tapi waktu itu mereka gak saling kenal. Terus beberapa taun kemudian, cowonya udah main di Broadway, cewenya di Hollywood, dan dapet kesempatan kerja bareng, akhirnya pacaran. Karena ngerasa hubungan itu hubungan yang serius dan tepat untuk dilanjutkan ke pernikahan, sejak awal mereka komitmen untuk gak berhubungan seks sampai merid. Dan mereka baru merid 1 th kemudian.

Mungkin bagi kita 'gak berhubungan seks' itu biasa, bahkan udah keharusan, dan wajar-wajar aja. tapi bayangin mereka artis Hollywood di akhir usia 30-an. Bisa diasumsikan, mereka udah aktif secara seksual sejak remaja dan suddenly mereka harus stop berhubungan seksual selama 1 th. Sungguh komitmen yang sangat berani dan luar biasa menurutku.

Ibaratnya seperti kalo kita komitmen ga pegangan tangan, rangkul, ato kissing sampe merid nanti. Kira-kira bisa bayangin?

Dan satu lagi, pas akhirnya merid, cincin pernikahan mereka diukir seperti ini:
inisial nama cowo (spasi) GOD (spasi) inisial nama cewe

Mereka bilang, Tuhan yang ada di tengah mereka.
Aku gak tahu kapan aku merid tapi aku tahu apa yang akan aku ukir di cincinku nanti. Ada nama Tuhan di antara namaku dan suamiku nanti. Karena Dia yang menyatukan kita dan Dia yang utama serta jadi landasan pernikahan kita nanti.

Balik lagi menjawab pertanyaan mamaku... Aku memang suka romance. Tapi aku rasa, romance gak tergantung pada hadiah dan kejutan, tapi tergantung pada orangnya dan pada SIAPA yang mempertemukan.
Semoga suatu hari nanti aku benar-benar menemukan romance (dengan suamiku nanti) dengan orang yang tepat yang dipertemukan oleh Pacar Pertamaku.

Wednesday, February 11, 2009

Supermom

Udah hampir seminggu ini keponakanku, Jocel, sakit flu Singapur. Gejalanya banyak sariawan plus bintil2 di kaki dan tangan. Ga terlalu mengganggu buat dia tapi karena nular, dia harus dipisahin dari 2 kokonya. Alhasil, sementara dia dikarantina dulu di rumahku.

Pagi-pagi, abis nyiapin Jason & Sean sekolah, ciciku (mamanya Jocel) dateng ke rumahku, ngurus Jocel. Sore sampe malem, dia balik lagi ke rumahnya, ngurus Jason & Sean lagi, temenin mereka belajar, bikin PR, siapin tidur. Malem2, dia balik lagi ke rumahku, temenin Jocel tidur.

Bacanya aja lelah ya...

Nah, pas ciciku di rumahnya ngurus Jason & Sean, mamaku yg ngurus Jocel... dan aku terkagum-kagum ngeliatnya. Bener-bener seorang supermom. Di umurnya yg ke-58, dia masih sabar ngurus cucunya, sama seperti waktu ngurus aku masih kecil. Aku tahu tangannya sakit kalo kelamaan gendong anak, tapi gak sekalipun dia ngeluh. Dan sepanjang hari dia penuh senyum, walaupun si Jocel ini bener-bener ga bisa diem. Belas kasihannya sungguh besar. Dia seolah bisa ngerasain sakit & ga enaknya si Jocel. Dia tetep sabar ngeladenin keinginan-keinginan Jocel yang kadang nyusahin.

Sementara itu, dia tetep berusaha menjaga perasaan papaku dan aku. Dia masih aja berusaha ngajak aku makan ke luar, ato sekedar ngajak aku ngobrol. Aku tahu dalam hatinya dia takut aku merasa abandoned karena dia lebih perhatiin Jocel. Dia lupa anak bontotnya ini udah jadi gadis muda yang gak mungkin ngerasa ditinggalkan krn hal kecil kaya gitu.

Ciciku juga, sekalipun masih banyak kurangnya sebagai ibu muda, aku yakin suatu saat dia bisa jadi seorang supermom yang penuh kasih.

Aku pernah ngerasain kasih yg mamaku beri. Aku tahu betapa bahagia dan bersyukurnya aku jadi anaknya. Itu bikin aku ingin jadi seperti dia suatu saat nanti, bikin anak-anakku ngerasain hal yang sama seperti aku dulu.

Harusnya itu juga ya yg terjadi waktu kita ngerasain kasih Tuhan, kita juga ingin jadi seperti Dia, biar banyak yang merasakan kasih-Nya melalui kita.

Monday, February 2, 2009

Intermezzo

Di tengah hari-hari sibuk mengejar bab 4 laporan tugas akhir... teringat sebuah pernyataan

Nggak ada hewan yang begitu bangun pagi, inget berseru sama Tuhan.
Karena itu, kalo manusia begitu bangun pagi nggak inget berseru sama Pencipta-Nya, sama aja sedang menempatkan diri di posisi makhluk lain.

Quotes by Pdt. Suta Prawira

Hayo...tadi bangun pagi apa yang pertama kali diinget? Pacar? Tugas kuliah? Masalah sama ortu? atau... Tuhan?

Selamat sibuk-sibuk, teman-teman... Selamat mengejar sidang konsep! Tapi jangan lupa bertindak sebagai manusia selayaknya.

Monday, January 26, 2009

Fakta Baru Tentang Sate!

Kalo kamu berpikir ini tentang makanan dari daging yang ditusuk dengan lidi, maaf-maaf aja kalo kamu jadi kecewa. Sate yang kumaksud adalah saat teduh.

Salah satu resolusi 2009 -ku adalah mencatat kotbah. Dan inilah beberapa fakta tentang sate yang kudapat dari kotbah Pdt. Budiman kemaren.

Orang yang berdoa secara khusus gelombang otaknya lebih selaras dengan lingkungan. Hal ini membuat sel-sel tubuh yang rusak cepat pulih, hormon bekerja dengan lebih baik, dan imunoglobin bekerja 2x lipat.

Membaca Alkitab memberi dampak terhadap prilaku. Remaja yang dari kecil gak terbiasa baca alkitab cenderung lebih labil dan mudah terlibat kekerasan.

Remaja yang terbisa bersaat teduh dari kecil cenderung lebih tenang dalam menghadapi masalah karena bagian yang dibaca (dari alkitab) bertumbuh dalam alam bawah sadarnya.

Berdasarkan penelitian di sebuah sekolah, anak-anak yang terbiasa bersaat teduh sejak kecil cenderung memiliki prestasi yang lebih baik.

Seneng banget deh denger ini semua, soalnya terus terang beberapa hari belakangan aku lagi rada males2an baca alkitab. Jadi semangat lagi!

Ayo rajin sate! Biar badan lebih sehat dan otak lebih pinter. hehe

Monday, January 5, 2009

Apakah Surga Ada?

Apakah kamu seorang Kristen? Apakah kamu percaya dengan keberadaan surga dan neraka?
Tadinya aku yakin aku percaya namun keyakinanku berkurang dalam perjalanan ke kebaktian tahun baru beberapa hari lalu.

Hari itu, engkongku ikut ke gereja walau dia bukan seorang Kristen. Hari itu dia ikut ke gereja karena dia sedang menginap di rumahku. Engkongku adalah satu-satunya orang yang belum menerima Yesus dalam keluarga besar mamaku. Aku pernah tanya ke mama dan katanya sih, dulu emak dan engkong pernah diceritain soal Yesus tapi emak cuma bilang, "Kita juga percaya Tuhan kok dan kita punya tuhan sendiri."

Emakku meninggal beberapa tahun yang lalu dengan belum menerima Yesus. Dan waktu itu terus terang aku ga merasa sedih karenanya.

Hari itu dalam perjalanan ke gereja aku duduk di samping engkong dalam mobil. Dalam diam, kau memandangnya dan berbagai pikiran berkecamuk.

Aku bukanlah seorang cucu yang baik. Aku gak pandai beramah-ramah dengan orang yang gak dekat. Aku kurang bisa akrab dengan keluarga besarku karena jarang ketemu mereka, termasuk dengan engkong. Aku jaraaaaaaang banget ngobrol berdua dengannya.

Dalam momen itu, aku mulai mikir kenapa aku sebagai orang Kriten, mengaku pelayan Tuhan, gak pernah berusaha cerita tentang Yesus ke engkong? Apakah aku gak mengasihi dia? Ya, mungkin kasihku sangat kurang. Dan aku takut menghadapi penolakan. Tapi gimana kalo dia meninggal nanti?

Aku sampai pada pemikiran, kalo mungkin....mungkin.... di hatiku yang terdalam, aku ga benar-benar meyakini keberadaan surga dan neraka. Mungkin bukannya gak percaya kalo itu ada, tapi lebih ke gak menyadari betapa indahnya surga dan mengerikannya hukuman kekal nanti. Sulit untuk mengakui kalo mungkin memang aku seperti itu.

Ya, kalo aku bener-bener punya iman akan adanya kekekalan entah dalam surga ataupun neraka, harusnya aku punya semangat berkobar2 untuk memberitakan Injil. Harusnya aku gak takut terhadap penolakan. Harusnya aku ga malas doain orang. Harusnya aku ga mudah menyerah. Harusnya itu jadi hasrat hatiku yang terbesar.

Kenapa?
Karena aku tau, aku udah diselamatkan sementara mungkin ada kekekalan yang mengerikan buat orang-orang di sekitarku.




Selamat tahun baru 2009.
Dalam bahasa Indonesia, kita menyebutnya tahun 2009 masehi.
Tapi dalam bahasa Inggris, kita menyebutnya 2009 A.D. (Anno Domini = in the year of the Lord).
Sadar ga sadar, sengaja ga sengaja, kita selalu menyebutkan tahun-tahun sebagai tahun Tuhan. Tapi biarlah tahun 2009 hidup kita sungguh menyatakan kalo inilah tahun Tuhan.

Thursday, December 25, 2008

Natal ini...

Met natal semuanya...

Natal ini natal yang istimewa buatku. Aku baru aja melalui sebuah tahun penuh naik turun dalam hal rohani. Dan sedihnya, kalo seumpama grafik, secara rata-rata, kondisi rohaniku rasanya kurang bertumbuh. Tapi semuanya diakhiri dengan indah dalam minggu-minggu menjelang natal.

Natal ini natal yang aneh.
Rasanya seperti aku terus-menerus menjauhkan diri dari Pacar Pertamaku sekalipun hati kecilku ingin banget mesra lagi dengan-Nya.
Sebaliknya, aku merasa semakin jatuh cinta pada-Nya sekalipun aku tetap aja belum menjadi pacar yang baik, yang meluangkan waktu terbaik buat Dia.

Natal ini natal yang penuh harapan dan sukacita.
Sepanjang tahun ini aku sedang dalam perjuangan meninggalkan kebiasaan burukku, yang aku tahun Dia gak suka. Di akhir taun ini aku seperti mendapat pencerahan.

Salah satunya melalui animasi dari donghaeng








Waktu kita ingin meninggalkan dosa atau kebiasaan buruk kita, seringkali kita minta pertolongan Tuhan dan merasa jadi orang menderita waktu terus menerus dapet godaan dan gak bisa ngelawan.
Sesungguhnya, apa bener godaan itu yang menghampiri kita, atau kita yang nggak mau pegi dari godaan itu dan datang pada Tuhan?

Have a great christmas!

Thursday, December 4, 2008

Ma Nggak Suka Kejutan? Tuhan aja suka!

Aku nggak inget kapan, tapi sejak aku mulai bisa mikir, aku udah suka kejutan. Seumur hidupku, aku cukup sering dapet kejutan. Sebagian besar kejutan-kejutan pas ulangtahun. Mmm...coba aku inget-inget...

Ultah ke-14, aku tiba-tiba diserang dan diguyur di kelas. Yes, di kelas, sampe becek-becek tuh lantai.
Ultah ke-17, aku dipangg
il guru pas pulang sekolah, diinterogasi soal buku kas kelas, sampe di rumah diguyur berbagai cairan bermacam-macam warna, dan malemnya ditembak seorang cowo.
Ultah ke-18, aku dinyanyiin sepanjang hari sama seorang temen sekelas, disuruh ke kelas anak kelas 10 karena 'dipanggil' guru, dikasih kue, dicelemotin krim, lanjutin belajar di kelas dengan sisa krim di muka dan rambut (yuck!), hari Minggunya diboongin ada rapat, tau-tau dikasih kue, didandanin ala cowo.
Ultah ke-19, lagi kerja kelompok sepulang kuliah, diajak keluar maen sama anjing, tau-tau diguyur 'ramuan' telor, soft-drink, kecap ikan, dll (gatau apalagi). Yuck yuck
yuck!
Ultah ke-20, ditembak dan jadian sama pacar keduaku.





Nggak cuma suka kejutan, aku juga suka ngasih kejutan. Sejak kecil, aku rajin kasih hadiah-hadiah tak terduga (kebanyakan buatan sendiri) ke orang-orang yang aku sayang. Yang paling sering adalah Ma.

Aku pernah kasih Ma-ku majalah, kartu, tatakan piring, dll dst dsb yang semuanya buatan sendiri. Makanya aku cukup shock waktu Ma bilang sebenernya dia nggak seberapa suka kejutan. Katanya, senengnya biasa aja dan itu diomongin sekitar 2 minggu sebelum ultahnya, 3 Desember kemarin. Aku shock karena selama ini mengira dia suka banget sama kejutan-kejutan itu.

Yaudah, karena itu aku nggak mikir buat kasih kejutan buat taun ini. Tapi entah kenapa, dorongan ini nggak bisa dilawan. Hehe. Aku tau Ma pengen foto pernikahannya direpro dan dibingkai yang bagus. Jadi inilah yang kulakukan:

Pas Ma dan Pa lagi pergi, aku ambil foto itu, scan, dan print seukuran
aslinya. Secara itu poto itemputih, jadi gak terlalu keliatan. Foto aslinya aku bawa ke tukang foto dan repro, trus aku kasih frame baru. Pagi-pagi pas hari ultah Ma, aku taroh di depan kamarnya. Dan sepertinya ini kejutan yang paling berhasil yang aku lakukan buat Ma. haha





Kenapa aku suka kej
utan?
Karena kejutan selalu bisa menghasilkan respon yang nggak biasa. Sebuah kejutan kecil bisa bikin kita tersenyum dengan mudah. Bahkan sebuah kejutan buruk bisa membuat kita berpikir lebih dalam, dan lebih dari itu, membuat kita semakin dewasa dalam menghadapi banyak hal.

Sebenarnya, aku rasa kemampuan untuk menikmati kejutan adalah sebuah anugerah, karena sadar atau nggak, hidup kita selalu penuh kejutan. Kita nggak akan pernah tau apa yang akan terjadi 1 tahun, 1 hari, bahkan 1 nanodetik di depan kita. Keren kan Tuhan kita, Dia sepertinya sangat suka dengan kejutan. Berkat-berkat Tuhan yang datang di saat tak terduga seringkali jadi kejutan kecil yang membuat kita belajar lebih peka untuk bersyukur senantiasa. Dan masalah-masalah yang datang juga di saat tak terduga, mendewasakan karakter kita.

Makanya, walau Ma bilang nggak seberapa suka kejutan, aku ngerasa dia sebenernya sangat suka kejutan, karena dialah salah seorang yang sangat menikmati kejutan dari Tuhan dengan selalu mengingatkan aku b
ersyukur atas hal-hal kecil.


Dan karena itu juga aku rela berlelah-lelah siapin kejutan, belanja, dan masak buat pacar keduaku, Mas Ben yang ultah 4 Desember kemarin. Recananya pengen bikin acara makan berdua di balkon dengan menu buatanku. Tapi karena ujan, pindah deh ke dalem. Menunya spaghetti carbonara dan cappucino rum. Semuanya cuma buat ngeliat ekspresi pertamanya waktu ngeliat itu semua...

Happy 21st B'day, Mas Ben.
Happy 57th B'day, Ma
Luv u!

Wednesday, November 26, 2008

Maaf, Sayang... Aku Autis

Belakangan ini, karena lagi pengangguran menunggu nasib dari proposal judul Tugas Akhir, tiap pagi dan malem aku sempet nonton Oprah Show di Hallmark Channel. Dan hampir tiap kali nonton, aku menitikkan air mata (tentu aja bukan pas episode yang bintang tamunya artis-artis Hollywood. Emangnya aku mau nangis saking gantengnya mereka?).

Yah, entah kenapa, aku yang dulu sangat dingin, gak mempan sama drama Korea apapun juga (sebut judulnya! Blom ada yang bikin aku nangis) dan selalu heran apa yang bikin orang nangis, blakangan ini jadi jauh lebih peka. Aku gak tahan ngeliat adegan anak yang lagi becanda sama Papanya. Bahkan aku nangis waktu denger suara anak kecil yang buaguuuusssss banget. Parah.

Tapi yang mau aku ceritain bukan itu. Itu intermezzo aja, sekalian curhat dikit. Hehe.
Tapi pagi Oprah ngebahas soal AUTISM.

Banyak fakta-fakta yang aku baru tahu. Selama ini aku mikir anak-anak autis tuh udah nunjukin gejala dari lahir. Jadi dari awal mereka memang keliatan terlambat dalam perkembangan fisik dan gak bisa bersosialisasi.

Ternyata itu salah.
Ada banyak kasus di mana si anak udah bisa bersosialisasi dan bertumbuh seperti anak-anak normal. Bahkan ada yang udah menguasai ribuan kosakata. Tapi di satu titik. BUUM. Mereka seperti kehilangan binar di matanya, kehilangan senyum, dan mulai gak bisa bersosialisasi.
Serem banget. Bayangin gimana perasaan orangtuanya yang udah ngeliat masa depan penuh harapan tapi tiba-tiba semua harus ilang dalam sekejap, tanpa penyebab yang jelas.

Tapi ada satu pernyataan orangtua anak autis di acara itu yang gak bisa aku lupain. Kira-kira gini deh:
"Kita (orangtua) seakan-akan terus-menerus berusaha menarik perhatian dia (anaknya yang autis). Kita seakan-akan ingin bilang padanya 'Cintai aku!'"

Menyedihkan. Mereka bilang jiwa anak autis seperti terperangkap dalam tubuhnya. Makanya anak autis suka melakukan kegiatan yang sama berulang-ulang, seperti menggaruk-garuk badan, menggertakkan gigi, lari-lari keliling, dsb. karena hanya dengan itu mereka bisa merasakan tubuhnya.

Makanya, para orangtua terus berusaha menarik mereka ke dunia nyata dan membuat mereka bisa merasakan cinta dan mencintai orangtua mereka.

Mungkin di hadapan Tuhan, kita seringkali jadi seperti anak autis, ya?
Kita terperangkap dalam dunia ini (yang sebenernya kita tau bukan tempat tinggal kita sebenernya) dan gak sadar kalo kita lagi terperangkap.
Tuhan terus-terusan melimpahkan kasih sayang-Nya, dan seakan berkata "Kasihi Aku!" tapi kita gak sadar.

Maaf, Sayangku, Pacar Pertamaku...
Aku memang seperti anak autis, tapi aku mau terus belajar jadi anak yang peka sama kehendak-MU.

Ket: Aku gak ngerti sama sekali soal autism, jadi semua yang kutulis cuma berdasarkan info yang pernah aku denger/baca dan Oprah Show tadi pagi. Kalo ada yang salah, mohon dimaafkan, dan dikoreksi. Thx

Wednesday, November 5, 2008

Harapan Membuatku Hidup

Sejak minggu lalu, aku menargetkan buat kumpulin laporan kerja praktek ke kampus.
Semalem, sampe jam 2.30 pagi tepatnya, tuh laporan belom kelar juga.
Tidur beberapa jam, lanjut lagi pagi-pagi.
Laptopku perlu dipindahkan dari meja kecil di lantai ke meja kerja karena mau scan skets-sketsa.
Saat itulah...

DUKK....

Hardisk eksternalku jatoh ke lantai.
Harap-harap cemas, tapi masih 80% yakin 'dia' baik-baik saja.
Kucolok kabelnya ke USB Port

Bunyi-bunyi ga jelas mulai kedengeran
Hardisk ku ke-detect, tapi datanya ga bisa dibaca.

JENG JENG....

Di situ ada data-data tugas selama aku kuliah, ditambah file-file administrasi pelayanan di Gunsa, ditambah foto-foto seumur hidup, dan entah ditambah apa lagi.

Rasanya gado-gado.
Mau marah sama diri sendiri.
Mau nangis, tapi ga bisa
Rasanya kayak 'dihukum' sama Tuhan, untuk alasan yang ga kuketahui.
Andaikan ada mesin waktu...

Cuma berusaha bersyukur karena data-data laporan yang harus dikumpul dan data-data side-job ku semua gada di dalamnya.

Aku SMS temenku yang ngerti komputer
Dia suruh aku ini dan itu
Harap-harap cemas, semoga bisa
Sambil terus-terusan berdoa, berharap mujizat
Tetep ada bunyi-bunyi aneh, tetep ga bisa.

Aku telpon kokoku yang gila komputer.
Harap-harap cemas cuma ada komponen yang geser ato copot.
Rasanya lamaaa banget nunggu kedatangan si koko.
Akhirnya dateng, dibongkar, dicolok, tetep ada bunyi-bunyi aneh, tetep ga ke-detect.

Lemes... lemes... lemes...
Tapi koko kasi harapan, ada jasa recovery data, 80% selamat, tapi mahal.
Dia juga bilang, mungkin head-nya aja yg rusak, jadi mungkin bisa dibenerin.
Harapan muncul lagi.

Sore-sore kutelpon tempat servis hardisk itu dengan penuh harapan.
Katanya, kmungkinan bisa dibenerin, kcuali kalo produksi taun 2007 karena komponennya rumit.
Harap-harap cemas kulihat tanggalnya.... (sambil ingin memaki).... Oktober 2007.
Harapan pupus lagi.

Kuakhiri hari ini dengan harapan yang timbul tenggelam.
Tapi sampai malam ini, aku masih bisa tertawa, karena masih bersandar pada satu harapan, minimal datanya bisa di-recover.

Jadi merasakan, manusia memang rasanya nggak bisa hidup tanpa sebuah pengharapan ya...

Saat ini aku cuma bisa berdoa, semoga hardisk-ku bisa sembuh, dan kalopun gak bisa, aku bisa menerima dengan penuh syukur.

Buat Mala, kok bisa ya blog-lu pas bener sama perenungan gw hari ini. Ampir aja gw mw nulis soal itu juga, tapi gak usah krn lu dah nulis. hehe

Monday, November 3, 2008

Bang Evan, Buka Bajumu!

Nah, lo... Evan mana yang kusuruh buka baju???

Evan Baxter, aku 'kenalan' dengannya hari Sabtu kemarin. Yah, dia tuh tokoh utama film Evan Almighty, sekuel dari film sukses, Bruce Almighty. Buat yang belom pernah nonton, nih sinopsisnya.


Evan Baxter adalah seorang anchor berita dengan karir OK sampe akhirnya ia berhenti kerja buat jadi seorang anggota kongres. Yah, hidupnya makin sempurna aja. Lengkap dengan istri dan 3 anak laki-lakinya, ia pindah ke rumah besar di real estate baru di daerah perbukitan.
Suatu malam
, ia berdoa agar Tuhan membuat keluarganya makin dekat satu sama lain. Singkat cerita, Tuhan datang dalam wujud manusia, menyuruh Evan membangun bahtera besar karena pada 22 September akan datang banjir.
Awalnya Evan menolak d
an menganggapnya gila. Sampai beratus pasang hewan mengikutinya kemana-mana, dan akhirnya ia menyerah.
Evan membangung bahtera sambil terus bekerja jadi anggota kongres. Sementara itu, janggut dan kumis
nya tambah lebat tanpa bisa dicukur. Puncaknya, Tuhan mengirimkannya jubah (serupa jubah tokoh-tokoh alkitab di gambar-gambar) yang nggak bisa dia lepas. Tiap kali dia ganti dengan baju lain, bajunya bakal otomatis kebuka.

Yak, sampai di situ aja sinopsisnya, silahkan nonton sendiri.
Sementara ini, baca tulisanku dulu. :D

Waktu sampai di adegan Tuhan ngasih Evan jubah, aku mulai mengkritisi film ini dalam hati.
"Ah, filmnya makin mengada-ngada. Masa Tuhan kasih perintah konyol buat pake jubah gitu. Itu kan nyusahin perannya sebagai anggota kongres. Janggutnya juga terasa gak ada gunanya. Gak mungkin kan Tuhan kasih perintah cuma buat lucu-lucuan kayak gitu."

Tapi, sekejap kemudian, malah timbul pemikiran lain yang sebaliknya. (Dan aku yakin ini pekerjaan Roh Kudus juga buat kasih aku hikmat baru).
Keliatannya memang konyol. Tapi jas dan dasi serta kerapihan buat seorang
Evan bukan sekadar baju, tapi identitas diri. Evan digambarkan sebagai seorang pria yang selalu rapi jali. Dan sebagai anggota kongres, jas jadi baju wajib.

Ketika dia menerima panggilan Tuhan, dia harus melepaskan identitas la
manya, egonya, untuk menggantinya sesuai identitas yang Tuhan mau (yang digambarkan dengan jenggot dan jubah).

Kita mungkin berpikir itu nyusahin. Kenapa Tuhan gak
mengijinkan jubah itu dipake cuma kalo lagi ngebangun bahtera aja? Toh, Evan udah sangat humble dengan nurut mau bikin bahtera kan?
Kenapa Tuhan gak mempermudah Evan menjalankan perannya sebagai anggota kongres?

Justru itu! Kita juga sering kayak gitu kan. Di tengah-tengah rekan sepelayanan, semisi, seiman, di tengah-tengah kita melakukan pekerjaan Tuhan, kita punya identitas baru yang kudus, yang rohani, yang baik-baik.
Tapi, sadar gak sadar, waktu kita pindah ke lingkungan lain, kita seringkali berusaha ngelepas identitas tadi untuk suatu identitas lain demi sebuah penerimaan.

'Aku gak bisa terlalu vokal menentang temen-temenku di sini. Mereka gak kenal Tuhan, nanti aku dimusuhin dan mereka malah jadi defense.'
'Mereka becanda jorok, aku nggak suka dengernya. Tapi maklumlah, mereka kan gak kenal Tuhan, ketawa aja deh.'
'Aduh, aku harus cari ayat nih buat kebaktian Minggu besok. Mm... ada yang liat gak, ya? Atau aku cari di WC aja?'

yah, mungkin itu contoh-contoh kadang kita membuang identitas anak Allah kita demi identitas yang lain, demi sebuah penerimaan. Bahkan kadang dibungkus oleh alasan yang terdengar sangat rohani.


Ada satu adegan simple yang berkesan. Ketika itu Evan baru keluar dari kamar mandi dengan jubahnya. Joan, istrinya, bertanya dengan kebingungan.
"Kenapa kamu pake baju kayak gitu? Dan kenapa kamu nggak cukur jenggotmu"
"Serius, aku nggak bisa mencukurnya! Dan aku pake baju ini karena nyaman."

Walaupun identitas anak Allah kadang keliatan nggak enak, dan aneh buat dilihat orang lain, percayalah, sekali kita masuk ke dalamnya, kita nggak bisa keluar lagi dan kita nggak akan menemukan identitas yang lebih bisa membuat nyaman daripada identitas itu.

So, berani 'buka baju'?


Keterangan
Aku membuat tulisan ini berdasarkan interpretasi dan perenungan pribadi. Aku nggak tau apa sebenarnya yang menjadi dasar pemikiran dari pembuat film ini.
Dan yang kumaksud nyaman dengan identitas anak Allah bukan berarti hidup senang senantiasa (Evan juga digambarkan hidupnya makin penuh tantangan sejak mengikuti Tuhan) tapi nyaman karena kita tahu kita menyenangkan Dia.




Di Lap Terakhir, Hamilton Jadi Peringkat 5


Semalam, pacar keduaku (selanjutnya kita sebut aja Mas Ben) baru tidur jam 3 pagi. Dia yang biasanya udah tewas sebelom jam 12, rela tidur subuh gara-gara nonton final balap mobil.
Dan gilanya (ya, gi
lanya!) tadi sore, dia nonton lagi siaran ulang pertandingan yang sama masih dengan semangat sebesar tadi malam.

Sekedar informasi, sepanjang hari dia udah ngoceh soal betapa serunya balapan semalem (yang kudengarkan dengan nggak peduli). Dan sesore tadi (sambil memonopoli remote control TV ruang tamuku), matanya melotot ke layar kaca sambil mulutnya ngoceh ceritain gimana kemenangan si Hamilton (pembalap dari tim Mc Laren yang dari dulu dia suka). Sambil di tengah-tengah kalimat, terus terusan tanyain, "Ngerti nggak, Din?"

Sungguh ironi, cowo yang maniak nonton segala jenis olahraga kayak dia dapet pacar kayak aku yang buta olahraga. Dan karena dia nggak bakal berhenti n
gejelasin sampe aku bener-bener ngerti, aku jadi berusaha mengerti (sampe akhirnya aku ketiduran di sebelah dia yang masih melotot).

Dan waktu aku kebangun setelah tidur cukup panjang, tuh mobil masih juga kebut-kebutan. Aku mulai sibuk dengan laptop, sementara si Mas Ben ini masih setengah maksa
"Cobain deh nonton, Din. Liatin aja..."
"Nggak tertarik, Ben."
"Liatin aja, kok bisa nggak tertarik sih?"
"Dari tadi juga liatin. Nggak tertarik. Aneh liat mobil ziiing....ziiing... lewat gitu..."

(Ha ha... aku masih senyum-senyum inget-inget adegan itu)

Lalu...setelah sekitar 2 jam, akhirnya lap terakhir, dan menanglah si Hamil
ton.
Dengan semangatnya, si Mas Ben langsung ngoceh
"Tuh, Din! Tadi tuh si Hamilton peringkat 4, kalo dia peringkat 5 aja dia udah pasti menang. Nah tapi di tengah-tengah kesusul jadi peringkat 6. Si Alonso yang peringkat 1 udah seneng tuh kirain udah menang. Eh tiba-tiba di lap terakhir, belokan terakhir sebelom finish, di depan si Hamilton ada mobil yang selip, jadi dia menang deh. Tim Ferrari langsung berubah tuh mukanya."

Percayalah... dia cerita hal itu udah sekitar ke-15 kali nya hari ini tapi dia cerita dengan semangatnya seolah-olah itu pertama kalinya dia cerita ke aku.


Mas Ben, coba kalo kayak semangat kita buat baca Alkitab kayak kamu kalo lagi nonton balap.
Dan coba kalo semangat buat bersaksi juga seperti kalo kamu lagi ceritain menangnya si Hamilton.
Berarti kamu udah ceritain Tuhan Yesus 15 kali.

Haha... aku yang lagi tergila-gila Grey's Anatomy (melebihi kegilaan terhadap Alkitab) jadi ikut ketegur.

Wednesday, October 22, 2008

Hatiku Hilang!

Hari itu hari istimewa sekaligus menyedihkan. Tunanganku menghampiriku di hari perpisahan kami. Ya, kami harus berpisah hari ini, aku harus pergi ke negeri yang jauh, jauh dari rumah yang telah kami rancangkan sebagai rumah masa depan kami berdua. Aku sedih dan takut, aku tidak rela berpisah dengan kekasihku, tapi kami berjanji akan bertemu kembali. Dan pada saat itu aku akan menjadi pengantinnya.

Supaya aku tetap mengingatnya dan tetap mengingat janji kami, ia memberiku suatu benda yang sangat berharga, sebuah hati.

Sejujurnya, aku tidak mengerti mengapa ia menyebutnya berharga. Benda itu tidak berkilau seindah permata dan juga tidak sehalus sutra. Benda itu kelihatan lembek, rapuh, biasa saja, namun terlindungi oleh kain putih miliknya. Ia bilang aku boleh menggunakannya sesuai kebutuhanku di negeri asing nanti tapi aku harus selalu menjaganya. Aku tidak mengerti, tapi karena kekasihku bilang begitu, aku percaya saja.

Akupun pergi ke negeri yang jauh, yang sungguh membuatku merasa asing dan sendirian. Aku tidak punya kawan apalagi sahabat. Aku merasa rakyat negeri ini berbeda dan aku tahu mereka juga merasa aku berbeda, bahkan sepertinya mereka membenciku. Aku sedih dan kesepian. Hanya hati hadiah dari kekasihku yang selalu membuatku terhibur, membuatku teringat akan negeri asalku dan tentunya kekasihku.

satu tahun...dua tahun... tiga tahun...
Lama-kelamaan aku semakin menyesuaikan diri dengan rakyat di negeri asing ini. Ternyata mereka tidak seburuk yang aku sangka.
Anehnya, ketika aku mengingat kekasihku, ia malah terasa semakin jauh. Tapi...ya sudah, apa mau dikata. Waktu bertemu kami toh masih lama. Aku harus pandai-pandai menyesuaikan diri di negeri yang baru ini.

empat tahun...lima tahun...enam tahun...
Aku memiliki banyak kawan dan sahabat. Aku semakin merasa aku tidak berbeda dengan mereka. Aku merasa makin nyaman dan hampir tidak ingin pulang. Aku ingat kekasihku, aku ingat janji pernikahan kami, tapi aku hampir tidak peduli. Aku tidak yakin lagi kami akan bisa bertemu lagi. Sudah terlalu lama dan ternyata negeri asing ini cukup menyenangkan juga.

Lalu tiba-tiba hari itu datang. Kekasihku datang!

Ia datang dengan senyum, menghampiriku.
'Pengantinku, aku datang menjemputmu."
Aku terpaku, tidak menyangka ia datang secepat ini. Dan dalam sekejap mata, aku teringat sesuatu. HATIKU!

Ya ampun! Sudah lewat begitu lama! Di mana kutaruh hatiku? Kekasihku pasti akan segera menanyakan keberadaan benda berharga itu.
Ah, kekasihku tak boleh sampai tahu. Aku harus menemukannya terlebih dahulu.
'Kekasihku, akhirnya kau datang menjemputku. Tapi ada sesuatu yang harus aku urus terlebih dahulu sebelum pulang bersamamu.'
Aku segera berlari menjauhi kekasihku.

Di mana hatiku? Aku betul-betul lupa.
Mungkin di bawah ranjangku yang nyaman? Ya, aku pernah menyimpannya di sana karena sangat nyaman, kukira pasti aman. Mmm tidak ada.
Mungkin di dalam folder-folder penuh data di laptopku? Aku pernah menaruh hatiku dalam data-data pekerjaan kantorku. Kupikir itu investasi yang sepadan.
Mmm tidak ada.
Mungkin di dalam buaian orangtuaku di negeri asing ini. Mereka selalu melindungiku, jadi sempat kuserahkan hatiku pada mereka. Mmm tidak ada.
Mungkin ada di dalam pelukan pacar baruku? (Kekasihku memang menganjurkan aku punya pendamping sepadan selama ada di negeri asing) Pacarku selalu menjaga dan menyayangiku (kupikir begitu). Mmm tidak ada.

Ah ini dia! Akhirnya kutemukan hatiku di pojok rumahku. Penuh debu, tapi kain putih yang melindunginya masih utuh. Aku membukanya.
Di situ ada hati yang obesitas karena terlalu nyaman di tempat tidur dan ruang-ruang nyaman lainnya. Hati itu juga penuh virus komputer dan ambisi merajalela dari pekerjaanku. Hati itu terluka oleh tuntutan orangtua yang kurang masuk akal. Juga kotor oleh hasrat seksual pacar yang tidak mengerti betapa berharganya hati itu.

Aku berusaha memperbaikinya tapi tidak bisa dan ternyata kekasihku terlanjur melihat perbuatanku.

Ia menitikkan air mata. Aku menitikkan air mata.
Bagaimana mungkin benda yang begitu berharga bagi kekasihku, kuserahkan pada tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab dan tidak mengerti harganya?

Tapi kekasihku mengambil hatiku dan memperbaikinya dengan penuh kelembutan sambil mengingatkanku
'Hati ini seharusnya jadi milikku, kekasihku'

Maafkan aku, kekasihku.

Betty lelah, aku juga.


Betty Suarez adalah seorang siswi yang sangat 'terkenal'. Terkenal dengan tubuhnya yang 'subur', giginya yang 'berpagar', poninya yang bagai gorden, dan tak lupa prestasinya sebagai siswi teladan yang selalu absen dari pesta-pesta sekolah (karena nggak ada cowo yang ngajak), dan terkenal sebagai wartawan koran sekolah yang nyaris nggak punya teman. Tapi Betty bukan sekadar siswi kuper. Dia pernah mendapat penghargaan sebagai warga teladan. Hebatnya lagi, piala itu dia kembalikan buat dipajang di lemari sekolah, supaya teman-nya bisa ikut menikmati dan bangga karenanya. Hebat ya... sungguh mulia hatinya...

10 tahun kemudian, sahabat Betty, Gio, berkomentar:
"Pasti capek jadi kamu. Kamu cuma mikirin buat ngelakuin apa yang seharusnya kamu lakukan - bukan apa yang kamu inginkan. Dalam hati yang terdalam sebenernya kamu ingin nyimpen penghargaan itu, kan?"

Ya... itu episode serial Ugly Betty kemaren. Salah satu serial yang aku tungguin tiap minggunya. Dan waktu si Gio ngomon gitu, bukan cuma Betty yang tertohok, aku juga.

Dari kecil, aku memang terbiasa jadi anak baik. Mamaku bilang dia nggak pernah marahin aku karena emang aku nggak pernah bikin salah. Sampe umur 21 ini memang sepertinya aku selalu jadi anak baik-baik karena memang aku nggak suka jadi orang yang bikin salah. Aku menikmati jadi orang yang 'baik-baik'.

Begitu juga ketika aku jadi orang Kristen, jadi anak Tuhan. Ada masa-masa (seperti sekarang ini) di mana aku nggak tahu lagi di mana rasa cintaku pada Tuhan.
Aku melakukan apa yang Dia mau cuma karena aku suka Dia memandangku sebagai 'anak baik-baik'. Aku cuma ingin image baik di hadapan-Nya (dan di hadapan orang-orang Kristen lain mungkin).

Dan tahu apa yang aku dapet?
Aku ngerasa cape. Cape karena tuntutan anak baik-baik tuh banyak banget. Cape karena aku harus memenuhi kemauan banyak orang. Cape karena ternyata bukan itu yang aku inginkan, tapi harus aku lakukan.

Aku udah lupa gimana rasanya melakukan sesuatu yang baik karena aku mencintai Dia.

Menyenangkan orang lain sebenernya bentuk dari mencari 'keamanan' diri sendiri. Terus-menerus melakukannya cuma bakal bikin cape.
Akan beda jadinya ketika kita menyenangkan orang karena kita mengasihi mereka, dan kita mengasihi mereka karena kita mengasihi Tuhan dan kita tahu Dia tersenyum ketika kita mengasihi orang lain. Terus-menerus melakukannya cuma bakal bikin kita bahagia.