Wednesday, November 5, 2008

Harapan Membuatku Hidup

Sejak minggu lalu, aku menargetkan buat kumpulin laporan kerja praktek ke kampus.
Semalem, sampe jam 2.30 pagi tepatnya, tuh laporan belom kelar juga.
Tidur beberapa jam, lanjut lagi pagi-pagi.
Laptopku perlu dipindahkan dari meja kecil di lantai ke meja kerja karena mau scan skets-sketsa.
Saat itulah...

DUKK....

Hardisk eksternalku jatoh ke lantai.
Harap-harap cemas, tapi masih 80% yakin 'dia' baik-baik saja.
Kucolok kabelnya ke USB Port

Bunyi-bunyi ga jelas mulai kedengeran
Hardisk ku ke-detect, tapi datanya ga bisa dibaca.

JENG JENG....

Di situ ada data-data tugas selama aku kuliah, ditambah file-file administrasi pelayanan di Gunsa, ditambah foto-foto seumur hidup, dan entah ditambah apa lagi.

Rasanya gado-gado.
Mau marah sama diri sendiri.
Mau nangis, tapi ga bisa
Rasanya kayak 'dihukum' sama Tuhan, untuk alasan yang ga kuketahui.
Andaikan ada mesin waktu...

Cuma berusaha bersyukur karena data-data laporan yang harus dikumpul dan data-data side-job ku semua gada di dalamnya.

Aku SMS temenku yang ngerti komputer
Dia suruh aku ini dan itu
Harap-harap cemas, semoga bisa
Sambil terus-terusan berdoa, berharap mujizat
Tetep ada bunyi-bunyi aneh, tetep ga bisa.

Aku telpon kokoku yang gila komputer.
Harap-harap cemas cuma ada komponen yang geser ato copot.
Rasanya lamaaa banget nunggu kedatangan si koko.
Akhirnya dateng, dibongkar, dicolok, tetep ada bunyi-bunyi aneh, tetep ga ke-detect.

Lemes... lemes... lemes...
Tapi koko kasi harapan, ada jasa recovery data, 80% selamat, tapi mahal.
Dia juga bilang, mungkin head-nya aja yg rusak, jadi mungkin bisa dibenerin.
Harapan muncul lagi.

Sore-sore kutelpon tempat servis hardisk itu dengan penuh harapan.
Katanya, kmungkinan bisa dibenerin, kcuali kalo produksi taun 2007 karena komponennya rumit.
Harap-harap cemas kulihat tanggalnya.... (sambil ingin memaki).... Oktober 2007.
Harapan pupus lagi.

Kuakhiri hari ini dengan harapan yang timbul tenggelam.
Tapi sampai malam ini, aku masih bisa tertawa, karena masih bersandar pada satu harapan, minimal datanya bisa di-recover.

Jadi merasakan, manusia memang rasanya nggak bisa hidup tanpa sebuah pengharapan ya...

Saat ini aku cuma bisa berdoa, semoga hardisk-ku bisa sembuh, dan kalopun gak bisa, aku bisa menerima dengan penuh syukur.

Buat Mala, kok bisa ya blog-lu pas bener sama perenungan gw hari ini. Ampir aja gw mw nulis soal itu juga, tapi gak usah krn lu dah nulis. hehe

Monday, November 3, 2008

Bang Evan, Buka Bajumu!

Nah, lo... Evan mana yang kusuruh buka baju???

Evan Baxter, aku 'kenalan' dengannya hari Sabtu kemarin. Yah, dia tuh tokoh utama film Evan Almighty, sekuel dari film sukses, Bruce Almighty. Buat yang belom pernah nonton, nih sinopsisnya.


Evan Baxter adalah seorang anchor berita dengan karir OK sampe akhirnya ia berhenti kerja buat jadi seorang anggota kongres. Yah, hidupnya makin sempurna aja. Lengkap dengan istri dan 3 anak laki-lakinya, ia pindah ke rumah besar di real estate baru di daerah perbukitan.
Suatu malam
, ia berdoa agar Tuhan membuat keluarganya makin dekat satu sama lain. Singkat cerita, Tuhan datang dalam wujud manusia, menyuruh Evan membangun bahtera besar karena pada 22 September akan datang banjir.
Awalnya Evan menolak d
an menganggapnya gila. Sampai beratus pasang hewan mengikutinya kemana-mana, dan akhirnya ia menyerah.
Evan membangung bahtera sambil terus bekerja jadi anggota kongres. Sementara itu, janggut dan kumis
nya tambah lebat tanpa bisa dicukur. Puncaknya, Tuhan mengirimkannya jubah (serupa jubah tokoh-tokoh alkitab di gambar-gambar) yang nggak bisa dia lepas. Tiap kali dia ganti dengan baju lain, bajunya bakal otomatis kebuka.

Yak, sampai di situ aja sinopsisnya, silahkan nonton sendiri.
Sementara ini, baca tulisanku dulu. :D

Waktu sampai di adegan Tuhan ngasih Evan jubah, aku mulai mengkritisi film ini dalam hati.
"Ah, filmnya makin mengada-ngada. Masa Tuhan kasih perintah konyol buat pake jubah gitu. Itu kan nyusahin perannya sebagai anggota kongres. Janggutnya juga terasa gak ada gunanya. Gak mungkin kan Tuhan kasih perintah cuma buat lucu-lucuan kayak gitu."

Tapi, sekejap kemudian, malah timbul pemikiran lain yang sebaliknya. (Dan aku yakin ini pekerjaan Roh Kudus juga buat kasih aku hikmat baru).
Keliatannya memang konyol. Tapi jas dan dasi serta kerapihan buat seorang
Evan bukan sekadar baju, tapi identitas diri. Evan digambarkan sebagai seorang pria yang selalu rapi jali. Dan sebagai anggota kongres, jas jadi baju wajib.

Ketika dia menerima panggilan Tuhan, dia harus melepaskan identitas la
manya, egonya, untuk menggantinya sesuai identitas yang Tuhan mau (yang digambarkan dengan jenggot dan jubah).

Kita mungkin berpikir itu nyusahin. Kenapa Tuhan gak
mengijinkan jubah itu dipake cuma kalo lagi ngebangun bahtera aja? Toh, Evan udah sangat humble dengan nurut mau bikin bahtera kan?
Kenapa Tuhan gak mempermudah Evan menjalankan perannya sebagai anggota kongres?

Justru itu! Kita juga sering kayak gitu kan. Di tengah-tengah rekan sepelayanan, semisi, seiman, di tengah-tengah kita melakukan pekerjaan Tuhan, kita punya identitas baru yang kudus, yang rohani, yang baik-baik.
Tapi, sadar gak sadar, waktu kita pindah ke lingkungan lain, kita seringkali berusaha ngelepas identitas tadi untuk suatu identitas lain demi sebuah penerimaan.

'Aku gak bisa terlalu vokal menentang temen-temenku di sini. Mereka gak kenal Tuhan, nanti aku dimusuhin dan mereka malah jadi defense.'
'Mereka becanda jorok, aku nggak suka dengernya. Tapi maklumlah, mereka kan gak kenal Tuhan, ketawa aja deh.'
'Aduh, aku harus cari ayat nih buat kebaktian Minggu besok. Mm... ada yang liat gak, ya? Atau aku cari di WC aja?'

yah, mungkin itu contoh-contoh kadang kita membuang identitas anak Allah kita demi identitas yang lain, demi sebuah penerimaan. Bahkan kadang dibungkus oleh alasan yang terdengar sangat rohani.


Ada satu adegan simple yang berkesan. Ketika itu Evan baru keluar dari kamar mandi dengan jubahnya. Joan, istrinya, bertanya dengan kebingungan.
"Kenapa kamu pake baju kayak gitu? Dan kenapa kamu nggak cukur jenggotmu"
"Serius, aku nggak bisa mencukurnya! Dan aku pake baju ini karena nyaman."

Walaupun identitas anak Allah kadang keliatan nggak enak, dan aneh buat dilihat orang lain, percayalah, sekali kita masuk ke dalamnya, kita nggak bisa keluar lagi dan kita nggak akan menemukan identitas yang lebih bisa membuat nyaman daripada identitas itu.

So, berani 'buka baju'?


Keterangan
Aku membuat tulisan ini berdasarkan interpretasi dan perenungan pribadi. Aku nggak tau apa sebenarnya yang menjadi dasar pemikiran dari pembuat film ini.
Dan yang kumaksud nyaman dengan identitas anak Allah bukan berarti hidup senang senantiasa (Evan juga digambarkan hidupnya makin penuh tantangan sejak mengikuti Tuhan) tapi nyaman karena kita tahu kita menyenangkan Dia.




Di Lap Terakhir, Hamilton Jadi Peringkat 5


Semalam, pacar keduaku (selanjutnya kita sebut aja Mas Ben) baru tidur jam 3 pagi. Dia yang biasanya udah tewas sebelom jam 12, rela tidur subuh gara-gara nonton final balap mobil.
Dan gilanya (ya, gi
lanya!) tadi sore, dia nonton lagi siaran ulang pertandingan yang sama masih dengan semangat sebesar tadi malam.

Sekedar informasi, sepanjang hari dia udah ngoceh soal betapa serunya balapan semalem (yang kudengarkan dengan nggak peduli). Dan sesore tadi (sambil memonopoli remote control TV ruang tamuku), matanya melotot ke layar kaca sambil mulutnya ngoceh ceritain gimana kemenangan si Hamilton (pembalap dari tim Mc Laren yang dari dulu dia suka). Sambil di tengah-tengah kalimat, terus terusan tanyain, "Ngerti nggak, Din?"

Sungguh ironi, cowo yang maniak nonton segala jenis olahraga kayak dia dapet pacar kayak aku yang buta olahraga. Dan karena dia nggak bakal berhenti n
gejelasin sampe aku bener-bener ngerti, aku jadi berusaha mengerti (sampe akhirnya aku ketiduran di sebelah dia yang masih melotot).

Dan waktu aku kebangun setelah tidur cukup panjang, tuh mobil masih juga kebut-kebutan. Aku mulai sibuk dengan laptop, sementara si Mas Ben ini masih setengah maksa
"Cobain deh nonton, Din. Liatin aja..."
"Nggak tertarik, Ben."
"Liatin aja, kok bisa nggak tertarik sih?"
"Dari tadi juga liatin. Nggak tertarik. Aneh liat mobil ziiing....ziiing... lewat gitu..."

(Ha ha... aku masih senyum-senyum inget-inget adegan itu)

Lalu...setelah sekitar 2 jam, akhirnya lap terakhir, dan menanglah si Hamil
ton.
Dengan semangatnya, si Mas Ben langsung ngoceh
"Tuh, Din! Tadi tuh si Hamilton peringkat 4, kalo dia peringkat 5 aja dia udah pasti menang. Nah tapi di tengah-tengah kesusul jadi peringkat 6. Si Alonso yang peringkat 1 udah seneng tuh kirain udah menang. Eh tiba-tiba di lap terakhir, belokan terakhir sebelom finish, di depan si Hamilton ada mobil yang selip, jadi dia menang deh. Tim Ferrari langsung berubah tuh mukanya."

Percayalah... dia cerita hal itu udah sekitar ke-15 kali nya hari ini tapi dia cerita dengan semangatnya seolah-olah itu pertama kalinya dia cerita ke aku.


Mas Ben, coba kalo kayak semangat kita buat baca Alkitab kayak kamu kalo lagi nonton balap.
Dan coba kalo semangat buat bersaksi juga seperti kalo kamu lagi ceritain menangnya si Hamilton.
Berarti kamu udah ceritain Tuhan Yesus 15 kali.

Haha... aku yang lagi tergila-gila Grey's Anatomy (melebihi kegilaan terhadap Alkitab) jadi ikut ketegur.